My ASI Story

Something Real: Karya Nyata

Posted on: 26/05/2013

Suatu saat, seseorang yang saya hormati dan pernah saya idolakan berkata, ” Kamu tidak memiliki identitas. Kamu berbeda dengan orang lain yang seusia denganmu dan sudah memiliki banyak hal. Yang kamu miliki hanyalah anakmu. Kamu belum menghasilkan karya nyata apa pun.”

Kata-kata itu menghujam begitu dalam ke hati saya. Begitu sakitnya perasaan saya waktu itu, hingga saat ini pun, pada detik ini, saat mengingat semua itu kembali untuk tulisan ini, saya merasa sakit hati lagi.

Jika saya menelusuri kembali perjalanan hidup saya, memang saya belum banyak memunculkan suatu karya yang bisa dibaca oleh–setidaknya–anak saya sendiri di masa mendatang. Karya nyata yang sesuai definisi pribadi saya adalah sesuatu karya yang menyebabkan anak saya kelak mungkin, dengan izin Allaah Ta’ala, akan membaca tulisan-tulisan saya dan berpikir, “Oh, inilah tulisan ibu saya dulu.” Saya berharap kelanjutan dari pikiran anak saya itu bukanlah, “Betapa naifnya tulisan beliau.”

Maka saya membuat blog “My ASI Story” ini. Kekacauan gramatikal di dalam judul blog ini sungguh adalah kesengajaan saya. Maksud saya, saya tahu bahwa seharusnya nama blog ini, agar konsisten dengan penggunaan Bahasa Inggris, adalah “My Breastmilk Story”, tapi nama itu terlalu panjang, menurut saya pribadi. Di sisi lain, saya kurang menyukai nama “Cerita ASI”. Maafkan pola pikir kebarat-baratan yang masih melekati otak saya, tetapi memang demikianlah alasan saya memilih nama My ASI Story.

Singkatnya, inilah blog tentang perjalanan saya memberi ASI kepada anak saya, yang saya sebut saja Baby Z ( baca: bebi zi ). Memang sedikit terlambat, karena saat ini sudah hampir satu tahun saya menyusuinya, tetapi karena pada masa ini saya dan Baby Z menjelang memasuki milestone kedua perjalanan ASI (setahun pertama), saya pikir tidak ada salahnya kembali menceritakan apa saja yang sudah kami alami selama ber-ASI.

Apalagi, kami sebentar lagi akan memasuki suatu periode yang membuat saya cemas. Bayang-bayang akan kemungkinan ketidakcukupan stok ASI perah saya, disertai dengan kemungkinan harus berpisah dari Baby Z selama dua bulan penuh, cukup mengkhawatirkan bagi saya. Jika seandainya saya terpaksa menyapihnya atau mendampingkan asupan cairnya dengan suplementasi formula, maka setidaknya apa yang saya tulis ini akan menjadi penyemangat saya. Bahwa saya, yang katanya belum menghasilkan karya nyata, pernah menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi anak saya. Bahwa saya mungkin dengan izin Allaah bisa menyemangati ibu-ibu lain untuk memberi ASI dan mempelajari ASI. Karena sesungguhnya tidak ada ciptaan Allaah yang sia-sia.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: